Kisah ku Pacar menjadi mantan pacar, sahabat tetap menjadi sahabat

Dibalik indah terang senang gemerlapnya duniaku, tirai putih menyembunyikan kelamnya harapan indah yang hancur oleh sebagian orang terindahku yang hancurnya tak terpungut lagi ..

 

Hari ini aku sibuk sekali, pukul 2 siang aku baru makan siang karena banyaknya tugas. Huh memang setiap hari aku sibuk, harus bangun sebelum ayam bangun lalu pergi sekolah sampai sore karena aku mengikuti program full day, lalu harus mengikuti kegiatan kegiatan sekolah maupun asrama, yaa karena aku tinggal di asrama, orang tua ku sengaja memasukkan ku ke asrama karena aku harus belajar jauh dari orang tua dan belajar survive tentunya. Ditambah lagi aku kelas 12, saat-saat paling sibuk karena harus  menghadapi ujian nasional dan harus siap memasuki pendidikan lebih tinggi ke universitas.

                Aku hidup seperti anak-anak yang lain meskipun sebagian dari temanku menyebutku orang aneh, aku tak tau alasan mereka menyebutku begitu, tak ku ambil pusing terserah  mereka  saja. Sore ini aku pulang bertiga ke asrama, kalian tau ? pasti tauuuu jika asrama, laki-laki dan perempuan pasti terpisah tempat dan aku pulang ke asrama dengan kedua teman laki-lakiku meskipun di asrama dilarang keras siswa perempuan pergi atau datang dengan siswa laki-laki, tapi tak terlalu kami –aku dan dua teman lelakiku- hiraukan meskipun aku harus turun agak jauh dari asrama agar tidak ketahuan dan jalan kaki menuju asrama, tanpa sepengatahuan ibu dan bapak asrama namun teman teman sekamar ku tau itu, tapi mereka mendukung ku dan bahkan iri pada pertemanan ku dengan Arbi dan Reno, bagaimana tidak iri kami sangat solid, kompak menikmati perbedaan dan sepakat dalam persamaan. Dimana ada Arbi dan Reno disana ada aku, ditambah lagi aku satu kelas dari kelas X dengan mereka jadi mustahil kami dipisahkan karena kita mengikuti program kelas full day.

Aku tiba di kamar asrama, seperti biasa aku di hinggapi sapaan dari ketiga teman sekamarku, jika di sekolah ada Arbi dn Reno, di asrama aku punya mereka  Arni, Lisi dan Arina, mereka keluarga ku di sini .. mereka tempat semua keluhan kesenangan hari hariku, mereka juga yang tak pernah telat mengingatkan aku yang pelupa, merawatku ketika sakit, menghiburku ketika berkeluh, penyemangatku ketika aku lemah, mereka selalu ada di sisiku dalam semua cerita hidupku sepanjang aku di asrama, aku juga melakukan hal-hal gila dengan mereka.

                Hari ini Lisi kelihatan murung walaupun ia berusaha menghilangkan kegalauan nya namun aku tau, ada yang disembunyikan oleh nya. Dia memang selalu seperti itu, selalu berusaha menyembunyikan sesuatu, dia agak pendiam namun suka tertawa, dia juga cantik, tinggi suaranya juga bagus, tak heran banyak anak aspa –asrama putra- yang menaksirnya. Lain Lisi lain juga dengan Arni, cewek bawel yang sukanya gangguin orang ini paling kenceng kalo soal ngomong ataupun ketawa, tapi tiba-tiba suka jadi pemalu kalo udah ngobrol sama cowo, dia juga agak pinter di asrama haha, dia suka ngalah kalo diantara kita ada perselisihan, beda banget sama Arina, dia paling ngotot kalo udah punya pendapat, tapi dia paling dewasa aku kira, dia selalu sigap, agak boyish tapiamat peduli dengan teman, dia juga rela berkorban. Yahh mereka lah teman-temanku di asrama yang selalu aku harap selamanya jadi sahabatku.

                Aku duduk dekat dengan Lisi dan ku letakan tas di samping lemari persis di sampingku,

“kenapa Lis mukanya kusut gitu?, setrika macet lagi yah ?” tanyaku sambil melihat temanku yang lain asik dengan dunia meraka masing masing

“Gak kok sekarang setrikanya udah bagus” jawab Lisi singkat

“Terus kenapa mukanya kusut gitu ?” tanyaku lagi

“Ngga kenapa-kenapa kok” jawabnnya datar

Aku tak terlalu hirau dia karena aku capek sekali,  aku pergi ke kamar mandi, lalu sholat dan mengikuti acara di asrama.

Sudah hampir magrib, aku baru selesai mengikuti acara di asrama, namun aku dan teman-temanku masih duduk di aula, seperti biasa kami menunggu hingga asrama sepi dan pulang ke kamar, dari kejauhan aku melihat Reno yang sedang asik menjahili si Arbi, ia dengan senangnya menendang nendang tak tentu arah sepatu Arbi, ingin ku hampiri mereka namun ku lihat ke sebelah kiri ku masih ada ibu asrama. Mereka memandangiku dan melambaikan tangan, aku tersenyum pada mereka.

“Ror aku envy deh sama kamu, di kelas aku gapunya temen kaya mereka” kata Arina dengan mata tertuju pada kedua teman laki-lakiku

“Iya yah, kok bisa sih elu akrab banget, udah lebih kaya pacar ke mereka” kata Arni sambungnya dengan mata mengarah ke dua teman laki-lakiku juga

“Iyaaa, apalagi Reno ganteng lagiii” kata Lisi melenceng dari pembahasan kami dengan mata tak berkedip dengan jelas mengarah ke Reno

Sontak kami bertiga melihat ke arah Lisi dengan membuka lebar mata .

“ooooh jadi Lisi suka Reno ?, nanti aku bilangin deh ke Reno” ledekku pada Lisi

“cie cie cie cie” ucap Arina dan Arni kompak

“apaan sih ah” jawab Lisi singkat dengan muka juteknya

               

Ketika Arina dan Arni sedang asik nya meledek Lusi yang tetap mengelak aku mencuri-curi pandang ke kanan kiri mencari seseorang, tak ku temukan juga sosoknya

Hari sudah gelap dan kami berjalan menyusuri lorong dan tangga hingga akhirnya sampai di kamar ..

Waktu aku jalani dengan mengikuti acara-acara kerohanian malam ini hingga sampai waktunya istrahat, ketika semua orang terburu buru untuk istirahat tidur, aku dan teman sekamarku malah dengan semangatnya melakukan hal-hal bodoh dikamar, sampai-sampai senior sudah capek memarahi kita yang selalu berisik setiap malam sampai sesaat semua hening dan tertidur pulas.

                Hari ini tak ku temui lagi seseorang yang aku cari, kalian pasti tau … ya aku mencari pacarku, yah duniaku memang lengkap rasanya saat ku rasakan indahnya keluarga yang penuh cinta, persahabatan yang kompak dan pacar idaman, sampai ku sadari jika yang menjadi pacarku adalah anak dari pemilik asramaku. Ini memang rumit, ketika para petinggi asrama melarang keras pacaran, aku malah pacaran dengan dia. Yah kalian juga pasti rasakan, meskipun di sekolah atau di asrama kalian di larang untuk berpacaran, tap aku yakin sebagian banyak dari kalian melanggar itu.

                Pagi ini aku sudah siap pergi sekolah, aku berjalan menjauhi asrama dan menunggu kedua teman laki-lakiku, aku buka ponsel dan ternyata ada 2 pesan singkat, itu menyenangkan ketika aku tau itu dari pacarku.

Pesan pertama

                “Selamat pagiii hon :*”

Pesan kedua

                “Mau berangkat sekolah yah ? hati2 yahh”

Aku membaca dan membalasnya antusias.

“Selamat pagi juga, iya pasti Kak J”

Dari kejauhan aku lihat kedua temanku sudah berjalan dengan semangatnya hari ini, kita berangkat bertiga .

 

Pelajaran pertama adalah TIK ! dan waw kejutan khusus untukku ketika Guruku menagih semua tugas semua teman sekelasku, mati aku ! yaa semua tugas di masukan pada 1 flashdisk yang aku pegang dan aku tak membawanya hari ini, danlebih parah lagi flashdisk nya aku simpan di kak Dira pacarku.

“Bapak gamau tau, tugasnya harus hari ini !!” bentak guru TIK dengan tegas

Semua teman sekelas memandang kearah ku dengan tatapan tak mengenakkan

“iya pak, saya janji hari ini” jawabku dengan nada ragu

Aku langsung pergi dari lab menuju kelas dan mengambil ponselku, ku telpon langsung kak Dira berulang kali dan tak ada jawaban

Aku mengirim pesan singkat padanya

“Kak flashdisk masih di kakak kan ?, kak semua tugas teman sekelasku ada disana dan hari ini harus di kumpul, gmna dong ?”

Beberapa menit kemudian aku dapatkan 1 pesan singkat

Iya sayang .. maaf kakak lupa, bentar lagi kakak ke sekolah kamu. Jangan nelpon kakak lagi sama mamah”

                Jangan kalian kira hubungan kami tak direstui, karena memang kami belum meminta restu.

Pelajaran TIK hari ini sukses buat mood hancur, bagaimana tidak guruku terus saja memberikan peringatan bukan bukan pelajaran TIK, sampai 2 pelajaran habis dan itu membuatku lega.

Semua teman sekelasku menampakkan muka betenya padaku .

Sekarang pelajaran kedua adalah fisik, Tuhannnn kenapa harus ada fisika di dunia ini !

Ponselku bergetar ditengah pelajaran, aku buka diam-diam dan itu dari Kak Dira,

“sayang .. kakak udah di parkiran sekolah kamu”

Dengan sigap aku mengantongi lagi ponselku dan meminta ijin keluar kelas dengan alasan ke toilet.

Setelah 3 hari aku tak melihat wajahnya akhirnya ku dapati wajah yang tak begitu rupawan namun dengan senyum indah melukiskan hatinya, dengan duduk di motor nya yang telah terparkir itu cukup membuatku jatuh lebih dalam pada cinta .

                “Maaf yah kakak lupa”

                “Gapapa kok kak, makasi banget yah mau nganterin kesini”

                “Sama-sama”

                “Aku masuk lagi yah ke kelas, sekali lagi makasi udah repot-repot nganterin kesini”

                “iyaa de” kalimat terakhir yang di barengi dengan senyum manis menutup percakapan kami.

Rasanya masih ingin berbincang dengannya, walaupun hanya berbincang itu sudah sangat menyenangkan bagi ku, harus kalian tau, dalam flash disk ini terdapat tugas sekelasku dan dikerjakan oleh Kak Dira, dia menghabiskan 9 jam waktu liburnya untuk mengerjakan tugas ini, baikkan pacarku, pengertian dan pintar pula, dan itu yang membuat aku semakin sayang setiap harinya ..

                Aku segera bergegas menaiki tangga untuk pergi ke kelas, namun rasanya berat, tiba-tiba gelap, terang lagi dan penglihatanku kabur, langsung saja aku segera ke kelas dan duduk manis menyaksikan semua rumus fisika di papan tulis. Waktunya pulang, Sakit kepalaku rasanya setelah menelan semua rumus-rumus pelajaran eksakta, namun sakit kepala ini berbeda, rasanya berkelanjutan dan mencengkram kepalaku, aku terduduk di kursi, meskipun semua sudah menghilang dari kelas termasuk kedua teman laki-lakiku, pasti mereka menungguku di parkiran.

                Dua hari berlalu dengan sakit kepala yang datang dan pergi, 6 hari lagi aku diperbolehkan pulang ke rumah, karena setiap bulannya aku diperbolekan pulang dari asrama. Hari ini aku masih merasakan sakit kepala di bagian belakang, kadang dada ku juga terasa terusuk.

Ujian nasional memang masih 3 bulan lagi, namun semua siswa di sekolah ku harus mempersiapkannya dari sekarang, dan itu membuatku dan siswa yang lain sibuk melebihi sibuknya seorang manager, setiap pelajaran pasti ada beberapa tugas yang harus dikerjakan dalam waktu singkat, itu semua menyita waktu ku.

Hari sabtu tiba, namun tugas masih membayangbayangiku, setiap ada waktu luang ku pakai untuk mengerjakan tugas, ditambah lagi pelajaran di asrama, aku melupakan semuanya, pacar, teman, makan, mandi dan sakit kepala memperparah semuanya

Sudah tiga hari tak ku raba ponselku, saat acara kerohanian di asrama libur karena kakak-kakak tingkatanku harus berlatih untuk pentas seni aku meluangkan untuk mencharge ponselku, saat ku hidupkan ada puluhan berdatangan, dan dari kak Dira paling banyak menanyakan hal-hal yang biasa orang pacaran tanyakan

Dari semua pesan yang ku terima ada 2 pesan yang membuat aku takut, bingung, dan merasa bersalah

Pesan 1

“aku udah sabar, kamu kalo ga aku sms duluan gabakal sms, sekarang kamu gini. kamu kalo sibuk kasih tau aku! Kamu gabisa gantungin aku kaya gini, ini tuh nyiksa tau!”

Pesan 2

“yaudah kalo mau gini aja, kaka mundur, kamu lebih mentingin temen cowok kamu, asal kamu tau aku cemburu Roraaa”

Rasanya seperti ribuan batu besar menimpa tepat di dadaku, “kaka maafin Rora, aku ga maksud kaya gini” bisik ku dalam hati yang menangis

Aku langsung membalasnya

“kak Dira, maafin Rora, aku sibuk banget minggu2 ini banyak tugas sampe ga sempet pegang hp”

Penyesalan ini sangat menyakitkan Tuhan …

25 menit berlalu dan kak Dira baru membalasnya

“Kakak nyerah De .. maafin kakak gabisa jadi orang yang kamu pengen, jadi pelarian disaat waktu luang kamu, jadi robot yang ngerjain tugas-tugas kamu”

Ini lebih sakit, aku baru sadar aku memang melakukannya seperti itu, tapi demi Tuhan aku tak bermaksud seperti itu ! ini memang salah ku, kak Dira berhak bicara seperti itu, aku harus relakan dia, karena jika aku meminta kesempatan kedua padanya sikapku tak akan berubah aku akan terus dikejar oleh semua tugas sekolah dan asramaku sampai ujian nasional. Mungkin kita butuh waktu!

Ku biarkan ponselku di kamar dan aku mulai mengerjakan tugas yang menumpuk walaupun hati ini menangis, kepala juga sakit tapi aku selalu ingat apa kata guruku “ Life must go on”

 Besok hari minggu, aku diperbolehkan pulang ke rumah, di rumah aku tak ingin terbebani oleh tugas, maka dari itu aku bereskan semua tugasku hari ini.

 

Pagi ini sudahku siapkan tas dan semua isinya yang akan ku bawa ke rumah. Aku, Lisi, Arni dan Arina berjalan bertiga hingga gerbang sampai akhirnya terpisah karena jalan yang berbeda kecuali Arni dan Arni.

Aku pulang dengan semua kegelisahan dan sakit dada yang mengelilingiku dilengkapi dengan sakit kepala yang terus menerus, rasanya berat sekali melangkahkan kaki ini. “Aurora, kau wanita kuat dan hebat” kataku dalam hati

 

Sampailah aku di rumah, belum sempat aku sampai betul dihalaman rumah aku terjatuh, hingga semua tubuhku terhampar di tanah, rasanya penglihata ku semakin kabur dan kepalaku semakin sakit. Ibu cepat keluar dari rumah yang melihatku dari kaca rumah, segera bergegas membantuku.

“kamu kenapa Rora? Masa udah gede masih jatoh” kata ibu sambil mengangkat tubuhku

“hehe .. keseleo bu, anak gede juga manusia bu, jadi bisa jatoh” jawabku setengah tertawa

 

Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur kesayanganku, pegal rasanya seluruh tubuhku sementara ibu membuatkan air teh hangat aku luruskan badanku hingga terasa nyaman, namun tiba-tiba dadaku sebelah kiriku terasa sangat sakit, kepalaku juga sangat sakit, aku mencoba bangkit dari tempat tidur namun rasanya sulit, sakit sekali sampai akhirnya semua gelap.

Ku buka sedikit mataku kemudian melebar, semuanya putih hingga aku melirik ke sebelah kanan ku ada ibu disampingku dan mulai tersenyum padaku

“ini dimana bu? Rumah sakit yah?” aku menebak, karena bau aroma ruangan seperti ini terakhir ku dapati hanya di rumah sakit

“iya Rora” jawab ibu pelan

“Rora kenapa bu?” aku kembali bertanya

“kak Rora sakit otak parah” belum sempat ibu menjawab adik bungsuku menjawab dengan suara lantang

“hushhh Abqar gaboleh ngomong gitu” kata ibu sambil mengavungkan telunjuknya ke arah Abqar

Aku mulai berpikir dan penasaran

 

3 hari aku di rumah sakit tanpa tau aku sakit apa, ibu ayah dan kedua adikku tak selalu beralasan setiap ku tanya. Aku memaksa untuk segera pulang meski tak di ijinkan dokter, tapi aku bersi keras untuk pulang

Hari ini aku masuk sekolah, dan semua orang bertanya “Rora sudah sembuh?” sambil memberi senyum, aku selalu jawab Alhamdulillah udah dengan senyum manisku tampakkan

Aku duduk, dan kedua temanku menyapa dengan ceria,

“dih si Rora bisa sakit juga yak” kata Arbi sambil ketawa

“Rora juga manusia bego” kata Reno sambil menyiku perut Arbi

“udah ah gw mau belajar, kemaren belajar apa aja, gw banyak ketinggalan yah?”

 

 

Aku pergi ke asrama, tanpa sepengetahuan ibu dan ayah, aku rindu berat pada teman-temanku disana, Ibu dan Ayah masih melarangku kesana tapi aku melanggar itu.

Sakit kepala ini mencengram saat aku tiba di tangga asrama menuju kamar, dan batuk batuk. Ku lihat telapak sesaat setelah aku batuk dan ternyata ada sebercak darah, aku kaget dan pergi ke toilet, setelah itu aku pergi ke kamar asrama dan semua menyambutku gembira, termasuk teman di samping kamarku semua masuk ke kamar ku dan memeluk ku erat-erat !

Semua kembali seperti semula sampai aku batuk dan mengeluarkan sedikit darah lagi, dengan semua keanehan ini aku segera aku hubungi ibu untuk menanyakan gejala-gejala ini, namun ibu malah memarahiku karena aku kabur dari rumah ke asrama. Ku biarkan saja.

Ujian nasional semakin dekat namun sakit kepala, sakit dada dan kadang pegal-pegal ini menggangguku saat belajar, sampai di sekolah aku tak kuat mengikuti pelajaran, aku paksakan saja pergi ke poliklinik sekolah, ku ceritakan semua keluhanku, ibu dokter disana hanya menyerahkan surat pengantar dan menyuruhku memeriksakan lebih lanjut ke rumah sakit. Aku makin penasaran dan memutuskan untuk memeriksa ke rumah sakit, aku sengaja meminta kedua teman laki-lakiku pulang duluan ke rumah sakit dengan alasan aku pergi belanja keperluan wanita, tentu mereka berpikir dua kali untuk ikut.

Ku lalui lorong lorong rumah sakit sampai ku sampai di sebuah ruangan, aku ceritakan semua keluhan sampai-sampai aku harus periksa darah dan pemeriksaan lainnya yang aku tau, dokter ini terheran-heran kenapa aku pergi kesana sendiri sampai menanyakan kemana ibu dan ayahku.

 

Ku tunggu beberapa jam, sumpah demi Tuhan itu membosankan ! sampai dokter itu meanggilku kembali ke ruangannya.

“Nak .. Bapak harus bicara dengan orang tua mu?”

“Emang kenapa Dok?”

“Penyakitmu serius nak”

“Emang saya sakit apa Dok?”

“Saya harus bicara dengan orang tua mu!”

“Orang tua jauh pak, mereka tidak ada disini, saya janji setelah Bapak menceritakan semua saya akan memberi tau orang tua saya”

“Saya harus memeriksa mu lebih lanjut, namun dugaan sementara kamu mengalami gejala penyempitan pembuluh darah di otak”

Rasanya aneh penyakit yang ku dengar itu, aku tak mengenali penyakit itu, yang ku tau itu penyakit yang mengerikan

 

 

Dua hari berlalu, aku masih berpikir keras, apa ibu dan ayah menyembunyikan penyakit ini padaku? Aku tau mereka tidak ingin menyakiti hatiku.

Saat ku pandangi langit sore di balkon asrama tiba-tiba Lisi merabaku

“kamu kenapa Ra, bengong sendiri disini?”

“ngga kok, cuman pengen ngerasain angin sore disini”

 

Kami berdua pergi ke kamar dan saat aku duduk dan Lisi menutup pintu kamar kedua temanku yang lain membuka pintu kamar dari luar.

“idih baru aja ditutup ada yang buka lagi” kata lisi sambil senyum

“kalian dari mana?” aku bertanya pada Arni dan Arina

“abis nyari makan hehe” kata Arina

“sambil liat anak aspa hahaha” kata Arni menambahkan

“idihh dasarrr” Jawab Lisi kecut

Arina menutup pintu dan duduk dekat Lisi lalu ada yang mengetuk pintu dari luar.

“biar aku aja yag buka” kata Arni sambil beranjak dari sampingku

Ternyata kaka senior!

 

“Aurora ditunggu di ruangan kepala asrama”  kata kaka dengan wajah cueknya

“baik ka” kataku lemah

Tuhan apa artinya aku di panggil oleh kepala asrama? Apakah dia tau aku pernah pacaran dengan anaknya? Apa aku akan dimarahi habis habisan? Apa aku akan di permalukan di depan semua anak asrama? Pikiranku campur aduk tak karuan.

Aku buka pintu ruang kepala asrama dengan ragu, setelah terbuka ku dapati ibu dan ayah tengah duduk memandangiku serius. Apa arti semua ini ? pikiranku kacau

 

“Rora, ini ada ibu sama ayah kamu mau bicara” kata bapak kepala asrama sembari senyum padaku

Ku hampiri ayah dan ibu, aku duduk di tengah tengah mereka.

“Rora kita kesini mau jemput kamu” ibu membuka pembicaraan dengan nada mengajak

“jadi Rora keluar gitu dari asrama ?” aku menebak

“Iya, Rora butuh istirahat yang cukup, Rora sering sakit kepala kan?” ayah menambahkan

“Ayah tau dari mana? Rora kan ga pernah bilang gitu” aku menjawab dengan nada tinggi

Seketika hening

“Rora gaboleh gitu, Rora kana anak baik pasti nurut sama orang tua, bapak juga ijinin kok Rora pulang” bapak kepala asrama mencairkan suasana

Aku mulai meneteskan air mata memeluk satu persatu teman terdekatku dan pergi ke balkon asrama sambil mengirim pesan ke Arbi dan Reno, mereka berdatangan, karena jarak cukup jauh aku hanya melambaikan tangan pada mereka sambil mengusah air mata.

Hati ini sakit seketika saat aku ingat semua kenanganku di asrama ini, kisah cinta dan persahabatku disini mengagumkan !

Aku pulang dengan sakit kepalaku dan air mata yang terus berlinang

 

Hari hari ku di sekolah dan di rumah, semua kegiatanku agak berkurang, pola makanku mulai teratur, namun sakit kepalaku tak pernah hilang lagi.

Aku duduk di kamar memandangi hujan tiba-tiba ponselku berdering, ada pesan, nomor baru, aku buka saja pesannya

“Kamu kenapa? Kata ayah kamu keluar karena sakit, bener?”

“ini siapa?”

“Kak Dira”

Ku baca pesan ini, namun rasanya sakit hati, aku kembali teringat pada kata-kata dokter kala itu, ini tak salah lagi, aku mengidap penyakit sialan itu hingga aku harus tinggal dirumah. Tak sempat aku balas pesan ini lag i, aku langsung mencari ibu . ku dapati ibu dan ayah sedang berbincang di dapur

“iya besok kita harus kerumah sakit” kata terakhir ayah yang aku dengar

“siapa yang sakit yah?” tanyaku padanya

“ngga .. kita harus kesana lagi biar kamu sembuh” kata ibu halus

“Rora terkena penyakit penyemitan pembuluh darah di otak kan bu? Penyakit ini serius kan bu?” kataku tersedu

Ibu hinggap memeluku

 

Hari hari ku terasa menyedihkan dengan penyakit ini. Aku hampiri ibu yang sedang termenung di kamarnya

“Bu .. Rora tau Rora sakit, tapi Rora pengen banget ketemu temen-temen di asrama, mereka kan ga satu sekolah sama Rora, jadi gabisa ketemu di sekola, Rora janji udah itu Rora gabakal minta tinggal di asrama lagi” aku memelas

“Roraaaaa .. “ ibu mulai memelkku dan menangis

“Iya Rora boleh kok kesana, nanti biar ibu suruh sepupu kamu buat anterin kamu” ibu mengijinkanku

“makasi bu” aku berterimakasih

 

Aku senang sekali, ini hari minggu dan aku akan berkunjung ke asrama di temani sepupuku. Aku sangat berantusias pergi kesana

Tak ada yang berbeda dengan asrama ini, selalu bersih, asri dan nyaman, ku kirim pesan singkat pada Arni kalau aku sudah ada di dekat aula, dia tidak membalas namun aku berpikir jika Ia sedang menuju kesini, dugaanku benar aku sudah ku lihat Arni dan Lisi berlari mendekatiku, aku merebahkan kedua tangan ku dan memeluk erat kedua temanku

 

“kemana Arina?” aku heran tak melihat Arina

“ada acara disekolahnya, kita ke kamar yu Ra” kata Arni dengan wajah semringah

Ku biarkan sepupuku pergi makan, aku menuju ke kamar asrama ku dulu yang ada di lantai 2.

“Rora kemana aja kok baru nongol sih” kata Lisi sambil memelukku

“Iya loh banyak gosip hot loh disini, ah Rora ketinggalan nih” kata Arni tak mau kalah

Aku menjawab semua pertanyaan semua pertanyaan Lisi dan Arni dengan semangat,

“Arina kenapa ya tiap di sms pending mulu” aku mulai bertanya

“kan ganti samaan sama kak Dira” kata Arni nyeleneh

Seketika hening, Arni langsung memasang wajah kaget, bersalah dan menutup mulut

“maksud kamu apa Ni?’ aku bertanya lebih serius

“maap Ra, aku ga maksud, aku keceplosan” kata Arni lagi masih merasa bersalah

Lisi hanya menunduk sambil menutup mata dengan tangan kanannya

“ceritain semua Ni” kata ku sambil senyuman masam

“Arina sama kak Dira jadian” jelas Arni ragu-ragu

Kata itu seperti panah tajam menusukku, langit serasa runtuh, bumi bergoyang. Mantan kekasih yang masih ku cintai, dan sahabat terdekatku mereka pacaran ? aku hanya tertegun dengan pandangan kosong, aku menahan nafas sebentar dan ku hembuskan, sangat sesak dan berat.

“mereka udah berapa lama Ni”? Suaraku merendah

“aku sih gatau pasti, cuman mereka sering kepergok sama anak asrama lain, katanya sering boncengan di motor, Arina sering dibeliin coklat, dibeliin charger juga karena chargernya rusak, sering di kerjaiin juga tugasnya gitu deh pokoknya” kata Arni panjang lebar

“Rora gapapa kan?” Kata Lisi menyentuh lenganku

“aku gapapa kok Lis, kak Dira kan bukan siapa-siapa aku lagi” aku mencoba tersenyum

“kamu kok gabilang sih putus sama kak Dira?”

“aku kan keburu ke luar asrama, sorry yah”

 

Pintu terbuka, ternyata Arina datang. “Eh Rora, kapan kesini?” Arina terlihat pucat pasi menyapaku

“tadi  Rin” kata ku sambil tersenyum manis

 

Kecanggungan di tunjukan Arina padaku, aku tak kuat menahan ini semua, aku memutuskan untuk pulang.

Ternyata sepupuku sudah memarkirkan mobilnya, aku memasuki mobil dan melaju pulang.

 

 

Aku membuka mata dan ku dapati alat-alat aneh hinggap di badanku, aku mencoba bangkit namun kaku, semua ada di sekelilingku, aku tersenyum ingin menyapa tapi tak bisa, aku tak bisa menggerakan anggota tubuhku ! aku lumpuh ?

Aku kembali memejamkan mata, semua putih dan wanita cantik memegang tangan ku dan mengiringku ke atas, ke tempat indah, sangat indah.

Iklan

Hi i’m Anggi Puji Astuti, you can call me Anggi, i have so many nicknames but most of my friends call me Meungi, i don’t know why .
I’m so proud to be my self. My hobbies is Fishing, travel, reading some novel, write a poetry.
Yes, some people tell that i’m weirdo, absurd, humored, moody . i’m not a nerd but i like to collect books, in my spare time i can spend that time with reading some books.
I love purple, history, laugh